SATRESKRIM POLRES JEMBER – Teka-teki penyebab tewasnya Rahmat Andita (40) warga binaan lapas kelas II A Jember pada Jumat pagi akhirnya berhasil diungkap. Jember AKBP Kusworo Wibowo memenuhi janjinya untuk mengungkap kasus ini tidak lebih dari 3X24 jam. Dari hasil pemeriksaan sejumlah napi, polisi menetapkan 8 tersangka atas meninggalnya korban.

“Seperti yang sudah kami janjikan, kami akan mengungkap kasus kematian korban tidak lebih dari 3X24 jam, dan hari ini kami sudah menetapkan 8 tersangka, dimana 4 tersangka sebagai pelaku utama, dan 4 tersangka lainnya berperan membantu,” ujar Kapolres Jember AKBP. Kusworo Wibowo saat menggelar konferensi pers Minggu (26/8/2018).

Menurut Kapolres, motif dari para tersangka menganiaya korban hingga menyebabkan kematian, dipicu utang piutang. Yakni antara korban dengan penghuni lapas yang ada di Blok B. Korban sering berhutang namun saat ditagih selalu janji dan tidak pernah menepatinya.

“Pemicu utama dari tersangka nekat melakukan penganiayaan yang menyebabkan kematian, karena korban sering berhutang kepada tersangka, dan saat ditagih selalu bilang tarsok yaitu sebentar besok. Para tersangka merasa jengkel, kemudian melakukan penganiayaan kepada korban hingga meninggal,” tambah Kapolres.

Selain dipicu hutang piutang, para tersangka menurut Kapolres juga mencurigai korban sebagai informan petugas lapas ketika ada apa-apa di dalam blok. Sehingga pada kamis malam sekitar jam 21.00 beberapa tersangka menginterogasi korban. Karena korban berbelit, ada salah satu tersangka yang mencekik korban dari belakang, kemudian tiga lainnya memukuli beberapa tubuh, perut dan kepala.

“Korban sendiri meninggal karena dicekik dan dibungkam menggunakan bantal, sehingga korban mati lemas, hal ini sesuai hasil dari autopsi tim forensik. Korban meninggal karena tidak bisa bernapas, sedangkan beberapa luka lebam di tubuhnya akibat dari pukulan salah satu tersangka yang menggunakan cincin akik,” tambah Kapolres.

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya dua cicin akik, celana korban, sarung, dan bantal, “Pelaku sendiri usai menghabisi korban langsung mengganti celana korban yang berlumuran darah dengan celana bersih dan menidurkan di kasurnya, agar korban dianggap meninggal dengan wajar, tapi dari temuan tim medis korban meninggal tidak wajar,” beber Kapolres.

Sementara Kalapas Jember Sarju Wibowo yang hadir pada konferensi pers mengatakan, bahwa pihak lapas akan melakukan pengawasan ketat, sedangkan mengenai cincin akik milik salah satu pelaku yang juga dijadikan barang bukti, pihaknya akan menindaklanjutinya.

“Dengan kejadian ini, kami akan melakukan pengawasan ekstra ketat, sedangkan mengenai adanya cincin akik yang digunakan sebagai sarana menganiaya, karena memang cincin akik tidak dilarang digunakan tahanan. Namun dengan kejadian tersebut, kami berlakukan untuk dilepas,” pungkas Sarju Wibowo. (*) 

Sumber : http://m.jembertimes.com/baca/177917/20180826/150400/polres-jember-ungkap-misteri-tewasnya-napi-lapas-jember-delapan-orang-jadi-tersangka/