Jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020, peredaran uang palsu di Kabupaten Jember, Jawa Timur, semakin meningkat. Polres Jember mengungkap praktik peredaran uang palsu tersebut. Uang palsu yang berhasil disita sebanyak 222 lembar senilai Rp 16 juta. Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal mengatakan, peredaran uang palsu itu ada keterkaitan dengan pelaksanaan PIlkada. “Untuk itu, kami mencegah terjadinya money politic yang dilakukan beberapa kelompok atau orang,” kata Alfian saat konferensi pers di Mapolres Jember, Rabu (12/2/2020). Baca juga: Kejari Jember Tetapkan Satu Lagi Tersangka Korupsi Pasar Menurut dia, polisi fokus melakukan pengawasan jelang Pilkada 2020. Peredaran uang palsu dikhawatirkan terus berulang. Sebab, kasus serupa pernah terungkap pada 6 Januari 2020 lalu. “Satreskrim Polres Jember telah melakukan target operasi pada dua tersangka yang melakukan pengedaran uang palsu,” kata Alfian. Salah satu tersangka adalah TAS, warga Desa Mlokorejo, Kecamatan Puger. Baca juga: Mobil Tercebur ke Sungai di Blitar, Sopir Tewas Dia merupakan residivis yang juga pernah melakukan kejahatan yang sama, yakni mengedarkan uang palsu. “Praktik peredaran uang palsu di Kecamatan Jenggawah,” kata dia. Menurut Alfian, tersangka TAS membeli uang palsu senilai Rp 16 juta, dengan rincian 98 lembar uang Rp 100.000, dan 124 lembar uang pecahan Rp 50.000. Uang palsu tersebut dibeli dari S. “Perbandingannya 1:4 atau uang palsu Rp 16 juta dibeli Rp 4 juta,” tutur Alfian. Sementara, S sendiri membeli uang palsu tersebut pada P yang merupakan warga Madura. “Perbandingan beli ke sana 1: 5,” ujar Alfian. Tersangka P sendiri masih masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Ketiga pelaku perdagangan uang palsu tersebut dikenakan Pasal 36 ayat (2) (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. “Ancaman penjara 15 tahun dengan Rp 50 miliar,” kata Alfian.

Penulis : Kontributor Jember, Bagus Supriadi
Editor : Abba Gabrillin