Jember, mataperistiwa.id – Beberapa waktu terakhir, sorotan publik tertuju pada kasus dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan seorang dosen PTN terhadap keponakannya sendiri yang masih di bawah umur. Respons cepat kepolisian dalam menangani kasus ini diapresiasi oleh beberapa kalangan aktivis perempuan.

Di balik proses tersebut, terdapat sosok Iptu Dyah Vitasari yang cukup berperan. Sebagai perwira yang menjabat Kepala Unit Perempuan dan Perlindungan Anak (Kanit PPA) Satreskrim Polres Jember, Dyah, sapaan akrabnya, menjadi salah satu tumpuan dalam penanganan kasus-kasus terkait perempuan dan anak di Jember.

Berkarir menjadi polisi, semula tidak terbayang dalam rencana hidup Iptu Dyah. Selain bukan berasal dari keluarga polisi, Dyah juga menempuh pendidikan yang cukup jauh dari penegakan hukum.

“Saya sebenarnya kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej), tidak ada hubungannya dengan polisi. Ayah saya juga bekerja di perusahaan rokok di Kediri, dan ibu juga ibu rumah tangga biasa,” papar Dyah.

Selepas menyandang gelar sebagai sarjana pertanian pada tahun 2003, Dyah sempat bekerja di sebuah perusahaan surveyor yang ada di Surabaya. Namun panggilan sebagai abdi negara membuat Dyah menjajal peruntungannya dengan mengikuti seleksi masuk Kepolisian.

“Alhamdulillah, sekali mencoba langsung diterima. Saya ikut pendidikan dan pada 1 Januari 2004, saya resmi dilantik sebagai anggota kepolisian,” tutur Dyah mengenang awal perjalanannya sebagai Polwan.

Sejak awal menjadi polisi, karir Dyah lebih banyak dihabiskan di Korps Lalu Lintas (Korlantas). Selama 17 tahun menjadi polisi, baru setahun terakhir Dyah berpindah ke Korps Reskrim.

“Kalau di kepolisian, pindah satkung dan satkres kan sudah biasa. Memang itu atas dasar keinginan sendiri. Saya ingin mencoba tantangan, karena semakin ke depan, tantangan tugas Polri semakin berkembang. Jadi kita tidak boleh gampang berpuas diri,” ujar perempuan kelahiran 19 Mei 1979 ini.

Setelah mengikuti pendidikan kejuruan Pama Dasar di Pusat Pendidikan (Pusdik) Reskrim di Megamendung, Bogor, Dyah diamanahi sebagai Kanit PPA Polres Jember hingga saat ini. Selama itu pula, beragam kasus seperti KDRT, persetubuhan, pencabulan dan sebagainya sudah ditangani Dyah dan jajarannya.

“Memang polisi yang ditempatkan di PPA ini dipilih Polwan yang humanis. Karena kasus-kasus seperti ini kan butuh penanganan khusus yang berbeda dengan kasus lain. Makanya, di ruangan kami tersedia ruangan khusus seperti play ground untuk anak dan tempat menyusui. Agar perempuan dan anak tidak takut ketika menghadapi penyidik,” tutur Dyah.

Dalam menangani kasus-kasus terkait perempuan dan anak, khususnya kasus asusila dan juga KDRT, polisi tidak bekerja sendiri. “Ada pendampingan dari Pusat Perlindungan Perempuan (PPT) Dinas Perlindungan Perempuan, Anak dan KB (DP3AKB Jember). Kita juga kolaborasi dengan pekerja sosial dari Dinsos,” tutur perempuan asli Kediri ini.

Seperti dalam kasus yang membelit dosen RH, pelapor yang merupakan keponakan bersama sang ibu, senantiasa didampingi oleh PPT dan juga LSM Perempuan. Yang menarik dalam kasus ini, saksi korban yakni remaja perempuan, sempat merekam aksi kekerasan seksual tersebut dengan rekaman suara di ponselnya. Rekaman suara itulah yang menjadi salah satu bukti awal untuk menjerat RH –dosen bergelar PhD dari Australia- sebagai tersangka kasus asusila.

“Intinya, kami mengimbau, setiap perempuan dan anak yang mengalami kasus-kasus kekerasan apapun, jangan takut untuk melapor kepada polisi. Soal barang bukti, itu biar urusan penyidik untuk mencarinya. Kami memiliki tekniknya. Juga akan ada pendampingan untuk perempuan dan anak,” tegas Dyah.

Membagi Waktu Antara Dinas dengan Keluarga

Bekerja sebagai polisi, membuat Dyah kerap bekerja di luar jam kerja normal. Namun, ia tetap tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga.

“Polwan itu meskipun berdinas sebagai abdi negara, di rumah perannya tetap kembali sebagai ibu rumah tangga. Karena itu harus pandai membagi waktu antara dinas dan rumah tangga. Alhamdulillah, suami dan anak semuanya tetap mendukung tugas saya,” ujar Dyah.

Di luar kesibukannya, Dyah harus tetap pandai membagi waktu, antara dinas dan perhatian terhadap keluarga. “Anak-anak sering tanya kapan pulang. Ya kita intens berkomunikasi kasih kabar. Kalau tidak telepon ya video call,” tutur Dyah.

Tiga buah hati Dyah, semuanya adalah perempuan. Yang pertama duduk di bangku kelas 2 SMP, lalu kelas 2 SD dan yang bungsu masih bayi berusia 2 tahun.

“Selama 17 tahun menjadi polisi, ada kebanggaan terhadap profesi. Karena bisa melayani dan bermanfaat untuk masyarakat,” pungkas Dyah.Red***